hay gauysssssss.......buat kalian pencinta motor besar bersiaplah untuk menyambut Suzuki INAZUMA
Desain dan Fitur
Suzuki memang ingin
tampil beda, di saat Honda dan Kawasaki berlomba mengeluarkan motor
sport 250 cc berfairing, Suzuki malah mendesain Inazuma yang beraura
sport touring. Tiap kali berhenti di perempatan atau di pinggir jalan,
tidak sedikit yang bertanya.
Umumnya menanyakan spesifikasinya
dan kagum dengan desainnya yang gambot. "Knalpotnya ada dua kanan-kiri,
keren kaya motor gede," ungkap salah seorang yang bertemu di perempatan
Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Desainnya banyak diklaim sebagai baby
Suzuki B-King. Desain tangki dan shourd-nya terlihat pas, enggak
kedodoran.
Tapi kami menilai, rasanya bagian buntut terlalu
lebar, khususnya di area lampu belakang. Juga bentuk sepatbor depannya
masih dianggap tidak lazim untuk motor sport. Masih soal sepatbor depan
yang besar, mesti lebih hati-hati ketika parkir di tempat sempit.
Salah-salah, bagian ujungnya jadi baret karena kepentok kanan-kiri.
Untuk
fitur-fiturnya enggak beda jauh bila dibandingkan dengan motor sport
250 cc lainnya. Panel indikatornya paduan digital dan analog.
Satu-satunya yang ditampilkan secara analog adalah takometer, sedang
yang lain seperti speedometer, odometer, tripmeter, indikator bahan
bakar dan suhu serta jam ditampilkan secara digital. Menariknya, motor
juga punya indikator posisi gigi yang ditampilkan secara digital. Jarang
ada motor sport yang punya fitur ini.
Dan satu lagi yang mencuri perhatian di panel indikator adalah
pilihan mode berkendara. Ada 3, yaitu eco, normal dan standar. Mode
berkendara yang bisa dipilih dengan menekan 2 tombol di panel indikator
ini menuntun kita untuk berkendara lebih hemat bahan bakar lewat kedipan
lampu kecil di bawah takometer.
Ketika mode dipindah pada posisi
eco, lampu akan berkedip dari putaran mesin 4.500-5.500 rpm. Artinya
boleh pindah gigi agar putaran mesin tetap rendah dan konsumsi bahan
bakar jadi hemat. Di atas 5.500 rpm, lampu akan menyala terus, artinya
harus pindah gigi. Kalau enggak, jangan harap konsumsi bahan bakarnya
hemat!
Sedang ketika pada mode normal, lampu hanya menyala ketika
posisi gigi menyentuh 8.500 rpm. Putaran mesin tersebut adalah peak
power dan torsi yang dianggap ideal untuk pindah gigi. Dan benar saja,
ketika pindah di putaran tersebut nafas motor seperti enggak putus,
cocok ketika hendak berakselerasi cepat secara efektif. Satu lagi adalah
mode standar, ketika dipilih yang ini tidak ada kedipan lampu sama
sekali.
Untuk safety, ada sensor di standar samping. Ketika
standar samping belum dilipat, mesin tetap bisa menyala tapi ketika
memasukan gigi, mesin akan secara otomatis mati. Lainnya, seperti
gantungan helm di bawah jok tetap ada. Tapi sayangnya, di bawah jok
tidak cukup untuk membawa barang apapun selain tool kit. Jas hujan pun
tidak bisa disimpan. Kalau begini, pasang boks bagasi aja!
Handling
Duduk di atas joknya terasa tinggi dan lebar
untuk rider bertubuh 165 cm. Jinjit ala balerina harus dilakukan, tapi
cuma sedikit saja kok. Ketika jinjit juga harus kuat menahan bobotnya
yang berat, motor ini punya berat kosong 182 kg. Lebih berat dari
Kawasaki Ninja 250FI apalagi Honda CBR250R. Buat yang baru pertama kali
nyempak, wajib waspada pada beratnya.
Masalah berat ini
berbuntut pada kemudahan parkir. Mengeser-geser bodi gambotnya di
parkiran harus mengunakan tenaga ekstra. Untungnya di rangka belakang
sebelah kiri bawah ada tambahan behel dari pipa besi. Meski kelihatan
jadul tapi terbukti fungsional di parkiran.
Impresi bobot
beratnya langsung dibayar dengan posisi duduknya yang nyaman. Setang
jepitnya lumayan tinggi, belum lagi joknya yang lebar dan empuk. Pijakan
kakinya juga enggak terlalu mundur, masih sporty tapi tetap nyaman.
Buat yang doyan jalan jauh bakal betah nih.
Makin terasa nyaman
lagi ketika mulai dibawa jalan. Meski gambot, Suzuki Inazuma tergolong
masih enak di pakai selap selip. Tidak terlalu merepotkan karena
setangnya bisa belok patah. Tentu tetap harus hati-hati karena bodi
motornya lebih lebar juga panjang dari motor sport kebanyakan.
Performa suspensinya layak diacungi jempol. Nyaman sekali
meredam getaran dan jalanan rusak. Melintasi jalan beton atau conblok
hampir tidak terasa guncangannya. Kalau cuma lubang kecil atau polisi
tidur berukuran nanggung libas saja, pinggang enggak akan berasa kaget.
Bobotnya
yang berat juga membuat motor ini tidak melayang di kecepatan tinggi,
handling saat menikung pun sangat stabil. Rebound suspensinya lembut
sehingga terasa tidak goyang. Apalagi di sokbraker depan terdapat
stabilizer yang dipasang di atas tabung sok. Hasilnya gerakan tabung
kanan dan kiri akan selalu sama.
Posisi berkendara pun tidak
terlalu capek dan menyiksa pinggang. Rasanya cukup bersahabat dipakai di
dalam kota juga untuk turing. Panas hawa mesin di Suzuki Inazuma tidak
sepanas motor sport barfairing. Saat berkendara, hawa hangat hanya
terasa di betis. Ketika lama bemacet-macetan, paha bagian dalam ikut
hangat. Tapi sebentar saja, setelah melaju normal sedikit, panasnya bisa
langsung hilang.
Pengereman pun dirasa cukup mumpuni untuk motor
berbobot besar ini. Minusnya cuma satu, saat hujan, ban standar motor
ini lumayan licin. Sebaiknya sih ganti saja hehee..
Performa dan Konsumsi BBM
Di
jalan lurus, sempat mengeber motor yang dijual Rp 46 juta ini sampai
memyentuh angka 139 km/jam, nafasnya pun dirasa masih ada. Namun kondisi
jalan yang tak memungkinkan membuat selongsong gas harus ditutup.
Putaran bawahnya memang tidak galak, smooth sampai 7.500-8.000 rpm, baru
deh hentakannya terasa. Meski punya bobot berat berat, nyatanya mudah
mengangkat roda depannya.
Prosesi pindah giginya tergolong keras,
meski begitu tidak sampai memperlambat akselerasi. Beberapa kali
mencoba gear shifting cepat pun tidak sampai mis. Soal performa, Suzuki
mengklaim motornya ini sanggup memuntahkan tenaga hingga 24 PS di 8.500
rpm. Torsinya mencapai 22 Nm di 6.500 rpm. Transmisinya 6 speed dan
sudah memiliki pendingin ruang bakar dengan radiator.
Sedang
konsumsi bahan bakarnya diperoleh angka 1 liter untuk 25 kilometer.
Metode tesnya top up, full to full dilakukan dua kali. Dipakai dalam
kondisi jalan kombinasi dari santai, ngebut ketika jalanan kosong hingga
bermacet-macetan. (motorplus-online.com)
Spesifikasi
Panjang: 2.145 mm
Lebar: 760 mm
Tinggi: 1.075 mm
Wheelbase: 1.430 mm
Jarak terendah ke tanah: 165 mm
Tinggi jok: 780 mm
Berat: 182 kg
Tipe mesin: 4 langkah, 2 silinder, pendingin cair, SOHC
Diameter silinder X Langkah piston: 53,3 x 55,2 mm
Kapasitas silinder 248 cc
Rasio kompresi: 11,5:1
Sistem bahan bakar: Fuel injection
Sistem starter: Listrik
Sistem pelumas: Wet sump
Transmisi: 6-Speed constant mesh
Rasio pengurangan utama: 3.238 (68/21)
Rasio pengurangan akhir: 3.285 (46/14)
Suspensi depan: Teleskopik, per ulir, peredam oli
Suspensi belakang: Lengan ayun, per ulir, peredam oli
Rake/trail: 26u/105 mm
Rem depan: Cakram
Rem belakang: Cakram
Ban depan: 110/80-17M/C57H
Ban belakang: 140/70-17M/C66H
Sistem starter: Elektrik, full transistor
Kapasitas tangki: 13,3 liter
Kapasitas oli: 2,4 liter
Riding gear: Alpinestars-ProRiders 021-57931965